Tampilkan postingan dengan label Insan Kamil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Insan Kamil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

:: Manusia; Hamba Allah atau Hamba Thaguth || waiman cakrabuana

Manusia adalah makhluq (ciptaan ) Allah SWT [96:1-2]. Manusia  ada di dunia bukan atas kehendaknya, tetapi semata-mata kehendak (Iradah) dan kuasa (qudrah) Allah SWT saja. Asalnya manusia itu “tidak ada”, menjadi “ada” karena diadakan oleh Allah SWT Sang Pencipta [76:1-3].
Karena yang meng-ada-kan (menciptakan) manusia itu adalah Allah, maka yang tahu tujuan dan untuk apa manusia hidup didunia adalah Allah SWT. Sang Pencipta menyatakan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT [51:56].
Karena tujuan penciptaan manusia itu adalah agar manusia mengabdi kepada Allah, maka Ibadah menjadi TUGAS HIDUP manusia [15:99].
Manusia tidak diciptakan oleh Allah untuk menjadi orang kaya atau orang miskin, sehingga menjadi kaya bukanlah kemuliaan dan menjadi miskin bukanlah kehinaan. Tetapi bagaimana kaya maupun miskin menjadi sarana (wasilah) pengabdian (ibadah) kepada Allah SWT.

Orang kaya bisa mengabdi dengan cara bersyukur, orang miskin bisa mengabdi dengan cara bersabar. Tidak juga diciptakan untuk menjadi orang cantik, orang terkenal, orang yang tinggi kedudukan sosialnya, tetapi diciptakan agar menjadi HAMBA ALLAH TA’ALA saja.

Ibadah secara tekhnis adalah “TAAT”, yaitu taat kepada Allah SWT dengan murni dan konsekwen menjalankan DIN ISLAM [98:5]. Menjadi Hamba Allah,  berarti menjadi manusia yang taat menjalankan aturan Allah didalam Din Islam.

Manusia yang sadar akan purwadaksinya, akan menjadi Hamba Allah. Walaupun sebagian besar manusia justru tidak menyadari jati dirinya. Bukannya menjadi hamba Allah (Abid Allah), malah menjadi Hamba Thaguth (Abid Thaguth) [5:60].

Abid Thaguth adalah manusia yang rela diatur dengan aturan yang diproduk oleh Thaguth [4:60].

Salah satu makna Thaguth adalah PEMBUAT ATURAN / HUKUM yang tidak bersumber kepada wahyu, hukumnya di dinamakan HUKUM JAHILIYYAH [5:50], sementara pembuatnya disebut Thaguth [4:60].

Jadi “menyembah” thaguth bukan berarti ruku dan sujud dihadapan thaguth tetapi dengan cara taat kepada aturan / hukum Jahiliyyah yang diproduk thaguth.

 Allah memvonis para penyembah thaguth itu dengan vonisan syirik (menduakan Allah) dan kafir (menolak hokum Allah) [2:256-257], sehingga pelakunya disebut MUSYRIK dan KAFIR.


Berikut ini perbandingan abid Allah dengan abid Thaguth

1. Abid Allah beribadah kepada Allah [1:5], sementara abid thaguth ibadahnya kepada thaguth [5:60]

2. Abid Allah beribadah kepada Allah dengan cara mentaati hokum Allah saja [12:40, 5:50], sementara abid thaguth ibadahnya kepada thaguth dengan cara mentaati hokum jahiliyyah [5:50], yaitu hokum dan perundang undangan yang dibuat thaguth [4:60]

3. Hukum Allah adalah hokum dan perundang undangan yang bersumber dari wahyu Allah SWT [5:48]. Sementara hokum Jahiliyyah produk thaguth adalah hokum yang digali dan bersumber dari: [1] Prasangka, pikiran atau filsafat [10;35-36], [2] Hawa nafsu [25;43], [3] budaya manusia [5:104], atau [4] suara terbanyak / opini public [6:116].

4. Abid Allah akan mendapat busyra (kabar gembira) dari Allah yaitu surga [39:17]. Sementara Abi Thaguth karena musyrik, maka balasanya:
~ Tidak akan diampuni dosanya [4:48]
~ Dihapus amal baiknya [39:65]
~ Haram masuk surga [5:72]
~ Tempatnya neraka [5:72]
~ Haram dimintakan ampunan kepada Allah [9:113]
~ Haram berada dalam kepemimpinannya [5:51, 9:23-24]
»»  SELENGKAPNYA...

Minggu, 12 Februari 2012

:: Fitrah Manusia ...... by waiman cakrabuana

~ Pengertian fitrah ~

Fitrah adalah bahasa arab, yang arti asalnya adalah “menciptakan”, seperti dalam QS 35:1, disana Allah sebagai “FAATIRU samawati wal ardhi” (Pencipta langit dan bumi).

Dalam kamus Lisanul Arab, Ibnu Mandzhur menulis salah satu makna ‘fitrah’ dengan arti (Al-Ibtida wal ikhtiro / memulai dan mencipta). Sehingga dapat ditarik pengertian bahwa FITRAH adalah penciptaan awal atau asal kejadian. FITRAH adalah kondisi "default factory setting", suatu kondisi awal sesuai desain pabrik.

Sebagai ilustrasi misalnya suatu barang, sebut saja “gelas”. Gelas pada awalnya diciptakan (dibuat) dengan tujuan sebagai alat minum, maka fitrah-nya gelas adalah sebagai alat minum. Si pembuat gelas (pabrik) pasti telah memilih bahan, proses dan desain produknya sesuai dengan tujuan ia membuatnya. Oleh karena itu maka gelas itu sangat cocok dan pas dipakai sebagai alat minum karena sesuai dengan fitrahnya.

Pertanyaan berikutnya, apakah gelas itu bisa dipakai sebagai alat mandi?. Jawabnya tentu bisa. Tetapi yang perlu diperhatikan, pasti tidak nyaman memakainya dan si gelas itu akan cepat rusak.

~ Fitrah manusia ~

Allah telah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadi Hamba Allah yang pandai mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT. Firman Allah SWT: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56).

Allah Al-Khaliq (Pencipta) dan Al-Mushowwir (Pendesain) , pasti telah mendesain penciptaan manusia baik dari bahan dan prosesnya, sedemikian rupa agar hasil akhirnya lahir suatu makhluk manusia yang bisa mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT. Jadi fitrahnya manusia adalah mengabdi ataui beribadah kepada Allah SWT.

Karena fitrahnya manusia adalah mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT, maka manusia dengan struktur jasmani dan rohaninya pasti bisa dipakai untuk mengabdi (ibadah) kepada Allah. Rohani dan jasmani manusia pasti cocok dan pas dipakai untuk beribadah. Sebaliknya jika dipakai maksiat (membangkang) kepada Allah pasti tidak nyaman, dan dipastikan pasti bakal cepat rusak dan celaka. Sungguh kecelakaan manusia adalah karena penyimpangan dari “FITRAHNYA”.

Seandainya manusia telah lama dan jauh menyimpang dari fitrahnya maka kadang manusia telah merasa nyaman dengan kemaksiatan. Tetapi yang perlu dicatat itu hanyalah sementara karena pada ujungnya pasti bakal rusak / celaka karena penyimpangan dari fitrahnya. Firman allah: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. 6:44)

By: waiman cakrabuana
»»  SELENGKAPNYA...

Minggu, 05 Februari 2012

:: Pendirian Amal || wai,an cakrabuana

Tugas pengabdian dharma bakti KITA kepada Allah, tidak akan berdiri, kecuali jika para pengabdi mendirikannya diatas 3 pendirian amal yaitu isthitho’ah (optimal), Istiqomah (teguh pendirian) dan Isti’anah (Pengharapan total kepada Allah).

 --------------------------------------------------------

ISTHITHO’AH  (OPTIMAL)
adalah usaha kuat dengan mengerahkan segala karunia Allah baik Amwal (harta) mauPun Anfus (jiwa), demi terlaksananya amal shaleh, demi terlahirnya bakti suci pengabdian

Pengabdian kepada Allah dalam rangka mentegakan Diin-Nya tidak akan terlaksana tanpa JIHAD & MUJAHADAH (Perjuangan dan Kerja keras)
“dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS 29/69)

Sebesar-besar tenaga, sekuat-kuat energi semua dikerahkan demi sempurnanya pengabdian. Tak ada waktu dan kesempatan kecuali didedikasikan untuk bakti suci mentegakan kerajaan Allah dimuka bumi. Tak ada pikiran dan cita cita tertingginya kecuali ditujukan demi meraih keridhoan Allah SWT.
 ---------------------------------------------------------------------------------------

ISTIQOMAH (TEGUH PENDIRIAN)
ialah pendirian yang tegak, haluan yang lurus, sikap yang tegas dan nyata, dan menuju satu maksud yang tentu. Ia tidak tergantung kepada jalannya angin, ataupun besar kecilnya gelombang di laut; tiada api yang menghanguskan dia, tiada pula air yang membasahinna.

Istiqomah berarti beramal shaleh dengan tidak terpengaruh oleh situasi kondisi, tiada angin kecil yang dapat membiusnya, tiada angin besar yang dapat menumbangkannya. Tiada nikmat yang akan melalaikannya dan tiada musibah yang akan melemahkannya dalam beramal shaleh.

Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS 41/30).

Sungguh bakti suci sebagai wujud HAMDALAH (Syukur) tidak akan berdiri tanpa KETEGUHAN PENDIRIAN, KETEGASAN, KEKERASAN TEKAD.
 --------------------------------------------------------------------------

 ISTI’ANAH (Penuh harap kepada Allah)
adalah pasrah dan sumerah kepada Allah sambil penuh optimis akan Rahmat dan Karunia Allah. Yakin akan KUASA dan ANUGERAH KARUNIA ILAHY

Kepercayaan akan kekuatan dan kekuasaan Allah yang bulat. Kepercayaan akan Kasih sayang Allah yang total. Kepercayaan akan kemaha agungan Allah adalah dasar ia beristi’anah.
Beramal shaleh dengan selalu berharap penuh kepada Allah; do’a kepasrahan dan kepercayaan penuh akan kuasa ILAHY adalah pendirian amal shaleh. Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS 2/153)
»»  SELENGKAPNYA...

Rabu, 01 Februari 2012

:: Kembali ke Asal || waiman cakrabuana

Kita berasal dari Allah dan pasti akan kembali (dikembalikan) kepada Allah
(Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Ro'jiun) .....

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. [[16/78]]

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [[ 23/115 ]]

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.  [[ 29/57 ]]

Kita berasal dari Allah dalam keadaan Fitrah... dengan memiliki kecenderungan untuk mengabdi, berdinul Islam dan mendukung al-haq (kebenaran) .....
"Fitrotallah Allati Fatoron Naas Ilaiha" (30/30)

alangkah indahnya jika jiwa yang asalnya dari Allah itu fitrah
saat kembali kepadanya dalam keadaan semula alias terjaga fitrahnya

Bayangkan saja jika kita punya barang dalam keadaan baik. Kemudian dipinjamkan kepada orang lain, namun saat barang itu dikembalikan kepada asalnya (pemiliknya) dalam keadaan kotor dan rusak????????

Padahal yang meminjamkan sadar betul ,  bahwa barang yang dipinjamkan itu akan dipakai si peminjam, kemungkinan kotor atau rusak itu sangat mungkin, tetapi si peminjam seharusnya tahu diri. seandainya kotor; segera bersihkan dulu , seandainya rusak,  segera perbaiki sebelum dikembalikan pada si pemilik

begitu juga diri ini, dari Allah-nya dalam kondisi FITRAH, maka harus kembali dalam keadaan semula yaitu FITRAH. Jangan dikembalikan jiwa ini dalam keadaan kotor fitrahnya dengan dosa dan atau rusak dengan kemusyrikan. Dan seandainya kotor: segera bersihkan dengan TAUBAT dan jika Rusak:  perbaiki dengan TAUHID (syahadah).

sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwa itu.
[[ 91/9-10 ]]
»»  SELENGKAPNYA...

Jumat, 20 Januari 2012

:: Wasiat rasul || waiman cakrabuana

WASIAT RASULULLAH SAW UNTUK TAQWA KEPADA ALLAH DAN TAAT KEPADA PEMIMPIN YANG TAQWA KEPADA ALLAH SWT....

“Aku wasiatkan kepada kalian
untuk tetap menjaga ketakwaan kepada Allah ‘aza wa jalla,
tunduk taat (kepada pemimpin)
meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak (Habsyi).

Karena orang-orang yang hidup sesudahku
akan melihat berbagai perselisihan.
Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunah-ku
dan sunah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Allah).
Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham
dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama)
karena semua bid’ah adalah sesat.”
(HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

-----------------------------------------

Wasiat RASULULLAH ini senada dengan QS Al-Maidah ayat 7:

"Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (mu)."

lihat juga QS 71/3, 5/7, 3/50, 8/1, 24/52, 26/108, 26/110, 26/126, 26/131,26/144,26/163, 26/179,64/16,

SEMOGA KITA MAMPU MENUNAIKAN WASIAT BERHARGA INI SEHINGGA KITA MAMPU BERTAQWA DENGAN SEBENAR-BENAR TAQWA KEPADA ALLAH YANG DIWUJUDKAN DENGAN MENTAATI RASUL DAN PIMPINAN KAUM MUSLIMIN
»»  SELENGKAPNYA...

Rabu, 18 Januari 2012

:: M A R D H A T I L L A H || waiman cakrabuana

 Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS Al-Baqarah (2) ayat 207)

Ridha Allah SWT adalah tujuan akhir segala keinginan, muara segala harapan, puncak segala kenikmatan dan kelezatan,  bahkan Allah SWT menyatakan bahwa Ridha Allah itu lebih besar daripada surga sekalipun (9/72).

Surga adalah tempat berlabuhnya hamba-hamba Allah , di akhirat, yang akan dikaruniai Ridha dan RahmatNya. Firman Allah SWT:  “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai, dalam surga yang tinggi.” (69/21-22). Dan untuk masuk kedalam tempat yang diridhai Allah itu, Allah memanggilnya dengan seruan penuh kecintaan, firman Allah: “Hai jiwa yang tenang., Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.   “ (89/28-30). Surga dengan segala kenikmatan karunia Allah itu adalah tempat bagi orang-orang yang diridhai Allah SWT, tetapi KERIDHAAN YANG KELAK ALLAH BERIKAN KEPADA PENGHUNI SURGA ITU LEBIH BESAR, LEBIH NIKMAT, LEBIH INDAH DARIPADA SURGA ITU SENDIRI.

Bagaimana kita meraih mardhatillah?

Masa (waktu) untuk meraih KERIDHOAN ALLAH adalah didunia, karena akhirat bukanlah tempat untuk mencari, tetapi untuk menerima KERIDHOANNYA.

Untuk mendapatkan Ridha Allah, kita harus BERKORBAN harta, waktu, tenaga, pikiran bahkan nyawa sekalipun (2/207), tanpa JIWA BERKORBAN mustahil kita dapat meraihnya.

Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS Al-Baqarah (2) ayat 207)

(ASBABUNNUZUL) ketika Shuhaib keluar untuk hijrah, dia(Shuhaib) dikejar penduduk Makkah. Lalu di pun mengambil kantong panahnya dan mengeluarkan 40 batang anak panah lalu (Shuhaib) berkata: kalian tidak akan dapat menangkapku sampai aku beri jatah setiap orang dari kalian(penduduk Makkah) satu batang anak panah, kemudian aku(Shuhaib) akan hunus pedangku(Shuhaib) dan kalian(penduduk Makkah) tahu aku(Shuhaib) adalah laki-laki. Dan aku tinggalkan di Makkah dua pundi uang dan keduanya(pundi uang) itu bagi kalian(penduduk Makkah).

Suhaib RELA berkorban harta bahkan nyawa sekalipun, asal dapat meraih (sampai ke) MADINAH. Madinah adalah WILAYAH TERITORIAL yang dikuasai ummat ISLAM, sebagai tempat berlaku (berdirinya) DIN ISLAM.

Nampaklah disini tempat dimana RIDHA dan RAHMAT ALLAH tertumpah ruah, yaitu di MADINAH. Yaitu Teritorial tempat berlakunya DINUL ISLAM. Tetapi, jika wilayah teritorial belum dikuasai maka tempat berlabuhnya RIDHA dan RAHMAT ALLAH itu tertumpah dalam KOMUNITAS TAUHIDY YANG DIPIMPIN RASUL (8/26), walaupun secara sunnatullah kondisi mereka sedikit, tertindas dan selalu dalam kondisi takut diculik penguasa tirani. Akan tetapi KOMUNITAS TAUHID itu adalah KOMUNITAS PERJUANGAN (61/4), yang berjuang dengan sabar bersama Rasul (3/146), dalam rangka menegakan DIN HAQ (42/13), hingga tidak ada lagi “fitnah” dan Din di muka bumi ini hanyalah DIN ISLAM (2/193) dan dengan itu Tegak merdekalah KHILAFAH ISLAM (24/55).

Karena dalam komunitas yang dipimpin RASULULLAH, HUDA (qur’an) dan DINUL HAQ (din Islam) berada (9/33, 48/28). Jadi kata kunci ridha Allah adalah DIN ISLAM.  Baik Din Islam itu masih berupa KOMUNITAS TAUHID, atau sudah berupa MADINAH, bahkan hingga DAULAH ISLAM sampai KHILAFAH ISLAM.

Oleh karena itu untuk meraih RIDHA ALLAH pembukanya adalah masuklah kedalam DIN ISLAM (2/208) dan didalamnya ia mengerahkan segala “wajjah” (seluruh karunia Allah) untuk diarahkan bagi TEGAKNYA DIN ISLAM (30/30).
»»  SELENGKAPNYA...

Sabtu, 07 Januari 2012

:: Amanah Ilahy || waiman cakrabuana

MANNUSIA adalah makhluq yang di percaya oleh ALLAH SWT untuk Mengemban AMANAH ILAHY. Amanah Ilahy yang tidak bisa dipikul oleh makhluk yang tinggi (gunung), yang Luas (langit) dan yang Kokoh (bumi) (QS 33/72)

bukan KETINGGIAN, KELUASAN DAN KEKOKOHAN yang membuat hamba Allah sanggup memikul AMANAH ILAHY itu.

HANYA MANUSIA MUKMIN YANG AKAN SANGGUP MENEMBAN AMANAH ILAHY ITU: "Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya," (23/8)

---------------------------

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (QS. Al-Anfal [8]: 27)

>> Ada dua titik rawan manusia dalam keteguhannya menunaikan AMANAH yaitu DZALUMAN (kedzaliman) dan JAHULA (kebodohan)......(33/72).

Dzaluman adalah orang yang makrifat (paham) akan wajibnya menjalankan amanah tetapi enggan memikulnya.... JAHULAN adalah orang yang jauh dari petunjuk hingga tidak memahami kewajiban menunaikan amanah

>> Ada dua FITNAH (PERCOBAAN) berat bagi manusia dalam kesuksesannya ia menjalankan amanah, yaitu AMWAL (harta) dan AULAD ((anak anak / keluarga)), dimana seringkali KECONDONGAN yang terlalu kerap membuat ia melalaikan amanah (8/28)

-------------------------

AMANAH ILAHY yang menjadi wasiat dan wahyu kepada para ANBIYA adalah TEGAKAN DIN ISLAM (42/13-14).... menegakan DIN ISLAM dalam wujud TEGAKNYA KHILAFAH (sistem politik ISLAM) 24/55.

Dan perjuangan menegakan DIN ISLAM itu mempersyaratkan JAMIE'AN (berjama'ah) dantidak boleh terbelah (42/13)... yaitu berjama'ah dalam SHAFF KAANNAHUM BUNYANUN MARSHUS / berbaris dalam barisan perjuangan yang tersusun rapih seperti bangunan yang kokoh kuat (61/4)
»»  SELENGKAPNYA...